Mahasiswa KKN-IK IAIN Kudus Lakukan Pendampingan UMKM Budidaya Jangkrik Sebagai Potensi Ekonomi di Desa Kebolampang

Mahasiswa KKN-IK IAIN Kudus Lakukan Pendampingan UMKM Budidaya Jangkrik Sebagai Potensi Ekonomi di Desa Kebolampang

 

Mahasiswa KKN-IK IAIN Kudus melakukan pendampingan pada salah satu UMKM yang ada di Desa Kebolampang rt 01 rw 02 di bidang budidaya jangkrik, pada tanggal 1 Oktober 2021. Mahasiswa KKN-IK IAIN Kudus mendata untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan terkait pendataan UMKM, dan melakukan pendampingan pada usaha budidaya jangkrik. Salah satu usaha yang didata adalah milik Mas Supriyanto beliau mendirikan usaha budidaya jangkrik kurang lebih sudah 3 tahun tepatnya sejak 2018 hingga sekarang ini.

Perkembangan peternakan yang ada saat ini tidak hanya pada ternak konvensional saja tetapi masyarakat sudah mulai mengembangkan ternak satwa alternatif. Jangkrik dibudidayakan sebagai pakan burung dan beberapa jenis ikan. Selain itu, jangkrik juga dapat digunakan sebagai pakan primata dan pakan reptil. Bila dilihat dari aspek nutrisi, jangkrik berpotensi sebagai sumber protein hewani alternatif dengan kandungan protein sekitar 60%. Permintaan akan jangkrik kian lama semakin meningkat dan ketersediaan di alam tidak dapat mencukupinya.

Awal mula Mas Priyanto mendirikan usaha budidaya jangkrik dimulai dari hobinya memelihara burung kicauan, disaat beliau kesulitan mencari pakan yaitu jangkrik, beliau berinisiatif untuk membudidayakan jangkrik sendiri untuk stok pakan burung peliharaannya, dari situlah beliau melihat peluang usaha dari budidaya jangkrik bisa menghasilkan.

Dalam budidaya jangkrik sendiri ada hal yang perlu di perhatikan, seperti dari segi tempat, pakan, temperature suhu udara, pencahayaan dan masih banyak lagi. Jika ada yang kurang dari salah satu aspek tersebut sangat berpengaruh pada kualitas jangkrik yang dihasilkan. Ada beberapa hambatan dalam usaha budidaya jangkrik, salah satunya ialah hama, seperti cicak ,kadal dan kelelawar, untuk menangani dan mengantisipasi tersebut perlu di lakukan pengecekan kandang rutin dan pemasangan jaring di sekitar kandang untuk mencegah kelelawar masuk ke dalam kandang. Hambatan yang lain juga terdapat pada cuaca, di saat suhu udara panas dilakukan penyemprotan rutin untuk tetap menjaga kandang dalam kondisi lembab dan tidak terlalu panas, semua upaya itu di lakukan untuk menghasilkan kualitas jangkrik terbaik untuk konsumen.

Dari segi pemasaran Mas Priyanto sudah mempunyai sales kepercayaan diantara daerah Purwodadi, Batangan, dan Pati. Harga jangkrik sendiri belum begitu konsisten bisa naik turun sesuai kondisi yang ada. Di sisi lain trend beternak memicu banyak masyarakat latah mencoba beternak jangkrik dan diantaranya merupakan peternak jangkrik musiman. Banyaknya peternak jangkrik yang muncul menyebabkan harga jual jangkrik menjadi menurun sedangkan pasar jangkrik masih terbatas. Selain itu, permintaan jangkrik tinggi tetapi pasar untuk jangkrik belum teridentifikasi dengan baik. Hal tersebut menyebabkan banyak peternak jangkrik yang mengalami kerugian dan menghentikan produksi jangkriknya.

Meskipun sudah lama bergelut di bidang budidaya jangkrik Mas Priyanto mengaku masih harus banyak belajar lagi untuk mengembangkan usahanya tersebut. Dan harapan kedepannya bisa memperlebar usahanya lebih besar lagi

Pengembangan pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memiliki peranan yang sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat khususnya Desa Kebolampang, tidak hanya berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja juga memiliki peran dalam pendistribusian hasil-hasil kreativitas masyrakat. Untuk bisa menjamin agar UMKM dapat berkembang dengan baik diperlukan inovasi secara.

penulis: Abdul rohman & Refo zunaedi

About kebolampang123 5 Articles
PEMERINTAH KABUPATEN PATI KECAMATAN WINONG DESA KEBOLAMPANG

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan